Langsung ke konten utama

Postingan

?

mungkin 1 - 2 tahun yang lalu saya terus bertanya-tanya kenapa semua ini harus terjadi dan kenapa harus saya yang mengalami? kenapa untuk hidup saya harus dipukul segininya? kenapa saya gak bisa punya orang tua yang show off kasih sayang ke anaknya? dan kenapa ayah saya malah melecehkan saya?  lalu, kenapa untuk mendapatkan sesuatu harus menyakiti orang lain dulu? tuhan sayang gak sih sama makhluk ciptaannya? dan satu persatu pertanyaan-pertanyaan itu harus saya jawab (sendiri) entah tuhan yang jengah melihat saya terus bertanya-tanya dan akhirnya saya langsung dihadapkan sendiri dengan peristiwa yang saya pertanyakan. "nih biar lo bisa mikir kenapa silahkan simpulin sendiri" ya, pada akhirnya saya harus menderita, sakit, dipukul, diinjak dulu jika saya menginginkan jawaban.  beliau mungkin mau nunjukkin kalau saya itu kuat atas semua kesakitan yang dia kasih. atau dia mau ngetest saya ya? kalau mau ngetes jangan lama-lama dong tuhan, saya cuma manusia saya bisa capek saya ju...
Postingan terbaru

23rd

Menjadi dewasa tanpa figure orang tua sangat amat susah dan berat untuk melangkah sendiri, bangun sendiri, jatuh sendiri.   Menurutku dewasa adalah masa di mana kamu harus menerima dan mengikhlaskan segala hal yang tidak sesuai keinginan. Apalagi dunia tidak selamanya baik sama kamu, hal-hal baik gak selamanya kembali ke kamu itu akan baik juga. Just let go kalo gak sesuai harapan kamu, kalau pertanyaan-pertanyaan itu terus di menari-nari di atas kepala, you can’t go anywhere.   Ya I am still learning how to make a better life for me. I am learning from my friends perspective, my partner too, and even from strangers I can learn something about life. Sometimes good and maybe bad, its life right?.   But someone said, “parents its your first school”. Ya mungkin emang di beberapa orang terjadinya seperti itu, but I never get good learning from my first school. Lalu saya gak harus mengikuti hal yang menurut saya itu tidak baik kan?. Because my body is my responsi...

Perempuan Kuat

Untuk Mba Nita, Perempuan mandiri, kuat, keren, penyayang, tulus. Mba Nita, mungkin kita ga pernah ngobrol sedekat itu, atau aku yang kurang terbuka ya Mba. Maaf ya Mba sebelumnya, Aku hanya gak terbiasa menceritakan hal2 yang berkaitan denganku masalahku ke keluarga. Mba Nita udah aku anggap keluargaku kakakku yang aku sayang, tapi aku gak pernah ngerti cara menyayangi seorang kakak itu seperti apa. Puspa sesayang itu sama Mba Nita, sempat terpikir segala hal yang Mba laluin dan alamin, kalo aku yg ngalamin pasti aku udah nyerah Mba. Tapi Mba Nita keren banget bisa laluin dan terus berusaha buat ikhlas dan jalanin dengan kuat. Aku salutt dan bangga banget sama Mba. Walaupun hubungan aku dan adik Mba gak berjalan lagi, setidaknya ada rasa syukur aku bisa kenal Mba Nita dan belajar banyak juga dari Mba how to being a strong n independent women. Mungkin Mba udah denger cerita-cerita dari adik Mba yah kabar aku sekarang dan anggap saja itu benar adanya, tapi Mba pasti ngerti ada seba...

i found my person

Setelah hubungan saya dengan mas r berakhir. Saya kira saya sudah kehilangan semuanya termasuk diri saya, salah satunya kepercayaan saya pada laki-laki, saya sampai pernah ada di titik gak mau menikah dan gak mau menjalin hubungan untuk beberapa waktu. Tetapi saya dipertemukan dengan seseorang yang bisa mematahkan perspektif saya saat itu, pertemuan sederhana karna ketidaksengajaan yang memantik kembali semangat saya untuk kembali dengan diri saya sendiri. Tepatnya dia membantu saya untuk percaya lagi dengan kemampuan diri. Semua saya ceritakan padanya perihal luka saya, rasa sakit saya, trauma saya, dan pembicaraan kami mengalir gitu aja. Dia tulus peduli dengan saya, dia menghargai keputusan saya, dia mendengarkan saya, dia mencoba mengerti sudut pandang saya, dan memperlakukan saya begitu baik. Saya merasa seperti disembuhkan, pun saya menjadi pendengar yg baik buat dia. Kalo kalian pernah denger "a good listener need a good listener too" yap saya menemukan di diri dia....

surat terakhir

Nanti juga kamu akan paham sendiri tentang orang yang sabar nya sudah selesai, bukan habis, tapi selesai. Semua selesai bukan karena mauku Tapi karna sifatmu yang begitu gitu saja Sekarang sepertinya kata maaf terlalu baik untuk sekedar membuat kita kembali utuh Sekarang kata maaaf tidak lagi tulus untuk kita Mari kita dewasakan diri masing-masing Dengan tidak saling kembali Dengan hilang dan saling melupakan Sekarang kamu sudah paham sendiri ketika kamu kehilangan aku Dan kamu sadar bahwa kita sudah tidak bisa bersama Nanti kamu juga akan paham sendiri kenapa akhirnya aku memilih pergi Masih ada hidup yang harus diselamatkan dari sekedar menyenangkan orang lain Tadinya kukira aku bisa membuat semua orang bahagia disampingku Tapi ternyata aku hanya sedang membunuh diriku secara perlahan Dan aku hanya ingin bilang Nanti di depan jangan pernah sepelekan hal kecil lagi ya Sebesar-besarnya rasa pun akan hilang karna kecewa Saat ini mulutku sudah berhenti berbicara Tapi ka...

Si paling tenang, akhirnya berantakan juga

Apalah arti suatu ikatan jika tetap ada sekat Aku ingin mencintaimu dengan tepat Tanpa ada keraguan datang merapat Aku ingin menyayangimu dengan harkat Tapi pernyataanmu sungguh hanya membuat kita melambat Apakah kita bisa kembali untuk melekat? Akhir-akhir ini aku mencoba untuk tidak membuat diriku menderita dengan keputusanmu. Aku sudah berdamai dari apa yang telah kita lalui, banyak proses yang aku lalui bersamamu, sakit, senang, sedih, bahagia, hingga aku bisa kuat sampai saat ini. Percayalah ketenangan yang kutunjukkan hanya ilusi, aku tidak pernah baik-baik saja. Sangat sulit untukku berdamai dengan keadaan kita saat ini, rasanya aku tidak ingin menerima apa yang saat ini terjadi. Tapi kamu memaksaku untuk menerima segalanya.  Aku sudah cukup tahu diri, harapan untuk tetap bersamamu akan ku kubur dalam-dalam. Karena kamu sudah tidak ada lagi di rumah yang kita bangun. Aku tidak pernah berpikir kalau perginya kamu untuk melukaiku, justru karna aku yang tidak bisa membuat rumah...

Aku tidak pernah baik-baik saja.

  Ketidaksengajaan yang membawa kita pada sebuah pertemuan. Perbincangan singkat yang kita bentuk ternyata membawa kita pada satu ikatan. Entah aku akan menyebutnya apa nanti, karena aku tidak ingin hanya satu kata yang menggambarkan kita. Kita lebih dari ribuan kata yang ada. Tetapi ada satu kata yang selalu kita cari, sebuah ketenangan. Kamu memahamiku sebagai seorang yang tidak punya rencana saklek untuk kehidupan, iya, aku tidak memiliki target dalam hidupku, apa yang terjadi di depanku saat itu juga harus ku hadapi suka tidak suka. Bukan karena aku tidak memiliki tujuan hidup tapi aku lebih memilih untuk tidak menuntut diriku mengikuti egois orang lain. Ketika kamu bertanya tujuan hidupku apa saat itu juga aku sudah tahu mau ku apa untuk kehidupan ku nanti, iya tujuan hidupku adalah untuk merasa hidup. Sudah hampir 20 tahun aku hidup belum pernah sedikitpun aku merasa hidup, hidup seperti apa yang aku inginkan. Bisa berdiri sendiri pun belum. Aku tidak ingin hidup dalam ...

boleh tidak?

Kepala batu mu kadang menyakitiku dan juga manusia-manusia lembut disekitarmu Kamu pasti tidak pernah berpikir demikian bukan? Karna kamu hanya ingin keinginanmu tercapai apapun caranya Boleh tidak melunak sedikit saja? Aku lelah harus menangis setiap kali menghadapi si ego yang selalu mau jadi pemenang. Boleh tidak dengarkanku sekali saja? Aku bosan selalu menjadi pendengar, yang selalu menyiapkan energi untuk menenangkan. Bahkan aku saja tidak selalu memiliki energi itu, selain itu aku pun ingin didengar. Boleh tidak hargai keberadaanku kali ini saja? Aku bukan si kuat yang tahan akan tekanan tanpa henti Aku manusia biasa yang tetap menahan emosi yang ku keluarkan dalam bentuk tangisan. Aku menangis karna aku marah Aku menangis karna aku kesal Aku menangis karna aku sedih Karna menangis jadi salah satu obat terbaikku saat ini.

Kalau dapatnya yang sama-sama bersyukur tuh seru ya, kayak dihargain gitu

Hehe seru ya? Aku pengen banget ada satu hari dimana kamu ngucapin 'aku bersyukur sama hidupku sekarang, ada kamu' . Kayaknya emang kita aja yang jarang komunikasiin perasaan sendiri. Lucu banget rasanya hanya saling memaklumi satu sama lain. Kesibukan, kelemahan, keinginan masing-masing tapi hanya aku yg memendam sendirian.  Aku terlalu banyak berpikir sampai tidak bisa ku ucapkan. Yang gak egois tuh gimana sih? Kadang aku ingin mengutarakan apa yang kurasakan tapi rasanya sulit aja, takut merepotimu, takut menganggumu, takut menyakitimu. Aku pengen banget kita ngobrol duduk berdua aja, berbincang tanpa ada emosi yang tinggi dan tidak memaksakan kehendak satu sama lain. Aku ingin bicara tentang kita. Bukan, bukan untuk masa depan akan bagaimana nantinya. Tapi kenyamanan kita diperjalanan ini.