Langsung ke konten utama

Aku tidak pernah baik-baik saja.

 

Ketidaksengajaan yang membawa kita pada sebuah pertemuan. Perbincangan singkat yang kita bentuk ternyata membawa kita pada satu ikatan. Entah aku akan menyebutnya apa nanti, karena aku tidak ingin hanya satu kata yang menggambarkan kita. Kita lebih dari ribuan kata yang ada.

Tetapi ada satu kata yang selalu kita cari, sebuah ketenangan.

Kamu memahamiku sebagai seorang yang tidak punya rencana saklek untuk kehidupan, iya, aku tidak memiliki target dalam hidupku, apa yang terjadi di depanku saat itu juga harus ku hadapi suka tidak suka. Bukan karena aku tidak memiliki tujuan hidup tapi aku lebih memilih untuk tidak menuntut diriku mengikuti egois orang lain. Ketika kamu bertanya tujuan hidupku apa saat itu juga aku sudah tahu mau ku apa untuk kehidupan ku nanti, iya tujuan hidupku adalah untuk merasa hidup.

Sudah hampir 20 tahun aku hidup belum pernah sedikitpun aku merasa hidup, hidup seperti apa yang aku inginkan. Bisa berdiri sendiri pun belum. Aku tidak ingin hidup dalam tuntutan, apalagi tuntutan tersebut dibentuk oleh orang sekitar yang tidak mau tahu keberadaan, keinginan, keadaan ku seperti apa. Mereka itu tai! Tidak lebih buruk dari sampah! Selalu saja memaksakan kehendak diatas keinginan.

Hahahah aku terlalu banyak berbicara ternyata.

Dan ternyata aku belum merasa hidup juga sampai saat ini. Aku masih saja terus membahagiakan orang lain, bahagiaku sendiri tidak pernah ku wujudkan. Padahal aku juga ingin merasakannya. Karna aku tau, tidak dimengerti itu menyakitkan. 

Kalau melihat dulu kita bagaimana, saling melempar perhatian, bukan tuntutan. Kurasa di momen itu masa paling menyenangkan.

Ah, aku merindukannya.

Aku pun sadar, kalau manusia itu bisa berubah kapanpun. Suka tidak suka. Tapi tetap saja, perubahan perlu penerimaan. Aku belum bisa menerima perubahan tersebut. Kamu paham sekali aku manusia yang paling tidak bisa dituntut, sampai saat ini pun kata-kata mu terus menari-nari di kepalaku. “tidak bisa! Pokoknya kamu harus mengikuti kata-kata ku.” Dasar menyebalkan.

Kalimat yang memaksa tersebut yang membuatku sulit untuk menerima bimbinganmu. Aku sangat mengerti maksudmu baik padaku, untuk menjagaku. Tapi siapa sih yang senang ditegur seperti itu? siapa sih yang senang diteriaki seperti itu?. Ketidaksenangan itu membawaku pada satu kekesalan tertahan dan aku harus memberi tahumu, kalau aku tidak senang dengan caramu.

Tapi bagaimana caraku menegur? Kamu saja dipenuhi vibes egois, keras kepala pada saat itu. Untuk aku orang yang malas ribut, diam sejenak adalah jalan terbaik.

Aku pun lelah menahan emosi ku sendiri. Menahan semua yang ada di kepala, karna kalau dikeluarkan pasti bertentangan dengan keinginanmu, dan kamu membenci itu. Lebih tepatnya, kamu benci ditentang, kamu benci dibantah, kamu benci kalah. Padahal aku hanya ingin mengutarakan apa yang kurasakan dan aku ingin didengar, tapi rasanya sulit sekali untuk berbicara.

Entah keadaan membuatmu berbeda, atau seperti katamu, aku yang kekanak-kanakan. Kamu menjadi lebih baik menurut versimu sendiri. Aku senang dengan kamu yang sekarang, tapi ada perubahan dari diri kamu yang menyakitiku.

Sering terlintas di pikiranku, kalau aku tidak bisa bersamamu untuk waktu yang lama jika kamu masih saja egois dan emosional. Karna aku juga ingin didengarkan, dihargai, dianggap keberadaanku. Aku juga manusia, punya perasaan dan keinginan.

---

Di awal pertemuan kita, aku menganggapmu berbeda dari yang lainnya. Kamu menghargai aku, mendengarkan aku, menganggap keberadaanku, dan kamu peduli denganku, dan juga ketulusan ada di matamu. Kamu membuka pintu itu dengan cepat tanpa bisa ku cegat. Ketika mengetahui segalanya pun kamu masih saja bertahan. Hal seperti itu yang membuatku menginginkanmu ada di hidupku.

Aku sangat egois, karena saat itu kamu pun masih miliknya. Aku berada pada kegamangan. Antara rasa bersalah padanya dan padamu, rasanya aku ada seperti merusak rencana mu dengannya ya? Maaf ya. Tapi melihat wajahmu dan cerita yang sudah kamu jabarkan padaku, aku malah semakin tidak ingin berhenti. Aku merasa kamu selalu saja sendirian, kesendirian yang lebih pekat dibanding milikku. Tapi kamu menutupinya begitu rapih, sampai teman terdekatmu tidak menyadarinya, ah bahkan pasanganmu sendiri. Bedanya kamu tidak mau kalah dan berteman dengan rasa itu. kamu tutup kotak itu rapat-rapat, kamu tidak ingin tenggelam pada rasa sedih yang sia-sia. Sialnya aku adalah aku dapat melihat kotak itu, sehingga aku tidak bisa membiarkan begitu saja. Kamu sudah menolongku, aku pun ingin menolongmu.

‘aku tidak mau kamu merasa sendirian’

Tapi kamu tetap memilih kesendirian itu, kamu lebih nyaman bersamanya. Itu lah keputusanmu. dan aku tidak dapat membantah apa-apa. Tujuanku bergeser, aku ingin kamu nyaman dengan apapun yang membuat dirimu nyaman, aku ingin kamu senang melakukan hal yang ingin kamu lakukan, aku ingin melihatmu melakukannya dengan rasa tenang.

-------


Komentar

Postingan populer dari blog ini

?

mungkin 1 - 2 tahun yang lalu saya terus bertanya-tanya kenapa semua ini harus terjadi dan kenapa harus saya yang mengalami? kenapa untuk hidup saya harus dipukul segininya? kenapa saya gak bisa punya orang tua yang show off kasih sayang ke anaknya? dan kenapa ayah saya malah melecehkan saya?  lalu, kenapa untuk mendapatkan sesuatu harus menyakiti orang lain dulu? tuhan sayang gak sih sama makhluk ciptaannya? dan satu persatu pertanyaan-pertanyaan itu harus saya jawab (sendiri) entah tuhan yang jengah melihat saya terus bertanya-tanya dan akhirnya saya langsung dihadapkan sendiri dengan peristiwa yang saya pertanyakan. "nih biar lo bisa mikir kenapa silahkan simpulin sendiri" ya, pada akhirnya saya harus menderita, sakit, dipukul, diinjak dulu jika saya menginginkan jawaban.  beliau mungkin mau nunjukkin kalau saya itu kuat atas semua kesakitan yang dia kasih. atau dia mau ngetest saya ya? kalau mau ngetes jangan lama-lama dong tuhan, saya cuma manusia saya bisa capek saya ju...

KataKan-A

  Semenjak peristiwa itu, mimpi bagiku hanyalah sebuah khayalan belaka, tidak menarik, membosankan, tidak akan pernah terwujud. Aku menjalani hidup mengikuti arah angin yang membawaku pergi, mungkin bisa dikatakan aku manusia tanpa harapan. Konyol banget. Hari demi hari berpergian tanpa kompas dan tanpa validasi yang cukup, sedikit membuatku mengerti arti hidup yang sebenarnya. Dulu, aku beranggapan manusia hidup tujuannya adalah untuk mati. Aku salah, seiring perjalanan yang sudah aku tempuh sejauh ini, ternyata arti hidup lebih dari itu, beraneka ragam, ada banyak pilihan, kamu cukup memilih 1 atau 2 arti dan kamu dapat hidup bahagia dengan itu. Kamu yang harus memilih, bukan orang tua, bukan teman, bukan saudara, bukan pacar, apalagi abang-abang burger. Mereka hanya berperan sebagai tour guide kamu di dunia, tour guide kamu menjalani kehidupan yang kamu inginkan. Tetap kamu yang harus memilih. Masih banyak perjalanan yang harus ku lakukan. Perjalanan untuk menemukan apa yang a...

23rd

Menjadi dewasa tanpa figure orang tua sangat amat susah dan berat untuk melangkah sendiri, bangun sendiri, jatuh sendiri.   Menurutku dewasa adalah masa di mana kamu harus menerima dan mengikhlaskan segala hal yang tidak sesuai keinginan. Apalagi dunia tidak selamanya baik sama kamu, hal-hal baik gak selamanya kembali ke kamu itu akan baik juga. Just let go kalo gak sesuai harapan kamu, kalau pertanyaan-pertanyaan itu terus di menari-nari di atas kepala, you can’t go anywhere.   Ya I am still learning how to make a better life for me. I am learning from my friends perspective, my partner too, and even from strangers I can learn something about life. Sometimes good and maybe bad, its life right?.   But someone said, “parents its your first school”. Ya mungkin emang di beberapa orang terjadinya seperti itu, but I never get good learning from my first school. Lalu saya gak harus mengikuti hal yang menurut saya itu tidak baik kan?. Because my body is my responsi...